Ruth Sahanaya: Komitmen dan Ciri Khas adalah Kunci Bertahan di Industri Musik

  • Share

TEMPO.CO, Jakarta – Ruth Sahanaya, ikon musik Indonesia yang telah menghiasi panggung selama empat dekade, menuturkan bahwa komitmen adalah kunci utama dalam mempertahankan eksistensi di industri musik Tanah Air. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Tempo di kawasan Senayan, Jakarta pada Rabu, 26 Juni 2024, dia bercerita tentang perjalanan panjangnya di dunia musik.

“Mau muda, mau tua, yang penting kita komit,” ujar Uthe, sapaan akrab Ruth Sahanaya. Baginya, mempertahankan identitas dan sikap dalam menyampaikan karya seni merupakan fondasi utama untuk membedakan seorang penyanyi di tengah kemunculan musisi lain atau tren baru. 

“Kalau untuk ciri khas itu saya rasa itu gift (hadiah) ya. Itu udah pemberian Tuhan. Itu enggak bisa dibuat,” imbuh dia.

Menyikapi pentingnya kesetiaan terhadap jati diri seorang penyanyi, Ruth juga menyoroti beberapa penyanyi di Indonesia yang mampu mengukir nama dengan ciri khas unik mereka. Uthe menyebutkan suara khas Vina Panduwinata dan Harvey Malaihollo. Tak hanya itu, menurut dia, nantinya sikap sang penyanyi juga menentukan perjalanan kariernya.

Idola Ruth Sahanaya di Industri Musik

Uthe juga mengungkapkan penghargaan darinya terhadap penyanyi idola dan sesama musisi yang tidak hanya dihargai atas bakat vokal mereka, tetapi juga integritas pribadi dan komitmen terhadap karyanya. “Kalau saya mengidolakan seseorang itu bukan hanya suaranya, tapi dari orang tersebut, kepribadiannya,” kata dia. 

Penyanyi berdarah Ambon itu lalu mencontohkan tokoh idolanya yaitu Titiek Puspa yang masih berkarya dan mempertahankan popularitasnya walaupun telah menginjak usia senja. Pandangan yang sama juga ditujukan Uthe pada penyanyi era sekarang, Yura Yunita. Dia menilai, Yura memiliki warna, punya sikap baik, dan lagu-lagu yang diciptakan bagus dan punya makna baik.

Fokus Ruth Sahanaya di Usia ke-40 Tahun Kariernya

Iklan

Usai napak tilas kariernya selama 40 tahun di dunia musik, Uthe merasa tak harus mencari apa yang belum tercapai. Bagi dia, mempertahankan apa yang telah dicapai saat ini jauh lebih sulit. “Justru bagaimana mempertahankan saja terus. Karena dengan bertambahnya umur, tambah sulit untuk mempertahankan,” Uthe menimpali.

Puncak dari dedikasi Uthe terhadap musiknya ditunjukkan dalam konser tunggal ’40 Tahun Simfoni dari Hati’ yang menghiasi Plenary Hall, Jakarta Convention Center, pada 22 Juni 2024. Konser ini menjadi momen bersejarah bagi Uthe setelah 15 tahun absen dari panggung tunggal. Uthe membawakan 30 lagu dari 175 repertoar hitsnya, termasuk ‘Keliru’, ‘Bawa Daku Pergi’, ‘Selamanya’, ‘September Pagi’, dan ‘Masa Kecil’. 

Dengan aransemen orkestra yang memukau dari Tohpati, konser ini tidak hanya menampilkan bakat musiknya tetapi juga kolaborasi istimewa dengan penyanyi ternama lainnya seperti Afgan, Yura Yunita, Once, dan Silet Open Up. Bekerja sama dengan tokoh-tokoh musik terkemuka seperti Untung Pranoto, Fendi Mugni, dan Tohpati, Uthe berhasil menghadirkan penampilan yang menghipnotis penonton selama lebih dari tiga jam. Dia mengakhiri penampilannya dengan lagu-lagu hits seperti ‘Astaga’ dan ‘Andaikan Kau Datang Kembali’, yang menjadi memori indah bagi 3.600 penggemarnya yang hadir.

Pilihan Editor: Momen Hangat Ruth Sahanaya Hampiri Para Penonton hingga Krisdayanti di Konsernya

Source link

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *