Rudi Soedjarwo Memilih Beda Profesi dengan Ayahnya yang Mantan Kapolri

  • Share

TEMPO.CO, Jakarta – Sutradara Rudi Soedjarwo telah verkarya tak kurang dari  25 tahun dalam dunia industri perfilman yang menjadi hobi serta passionnya, hingga sudah mengalami berbagai momen suka dan duka yang membuatnya terus belajar menjadi lebih baik.

Rudi Soedjarwo adalah anak dari Anton Soedjarwo, yakni mantan Kepala Staf Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) periode 1982-1986. 

Berikut profil Rudi Soedjarwo yang memilih jalan karir berbeda dari ayahnya: 

Dilansir dari laman festivalfilm.id, Rudi lahir pada 9 November 1971 di Bogor, Jawa Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Tarakanita Jakarta pada 1981. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Tarakanita Jakarta dan SMA Gonzaga Jakarta. 

Rudi menempuh pendidikan tinggi di bidang manajemen, San Diego State University. Kemudian ia melanjutkan studi di Academy of Arts College San Francisco pada 1996. Rudi dinilai ikut menandai bangkitnya industri perfilman Indonesia setelah sekian lama mengalami kemandekan. Rudi dikenal sebagai sutradara yang berhasil membangun film bergenre remaja. 

Diawali lewat filmnya yang paling menonjol berjudul Ada Apa dengan Cinta?, film ini pula yang kemudian mengantarkan pemeran utama perempuannya Dian Sastrowardoyo menerima anugerah Piala Citra pada perhelatan Festival Film Indonesia (FFI) 2004. Rudi pun menjadi sutradara terbaik. 

Dilansir dari Antaranews, Rudi telah mengalami berbagai momen suka dan duka yang membuatnya terus belajar menjadi lebih baik. Dalam momen-momen gemilang ketika semua berjalan sesuai rencana dan kesuksesan menghampiri, Rudi merasakan kepuasan yang mendalam.

Namun, seperti halnya kisah perjalanan yang sesungguhnya, pembelajaran sejati datang dari saat-saat sulit. Ketika film-filmnya tidak mencapai ekspektasi atau saat penonton tidak sebanyak yang diharapkan, itulah titik-titik balik yang mengajarkannya lebih banyak dari segala kesuksesan yang diraihnya.

Iklan

Melalui perjalanannya yang panjang, Rudi senantiasa mencari inovasi dan eksperimen. Setiap film yang ia sutradarai memiliki ciri khasnya sendiri, sebuah jejak perjalanan kreatif yang terus berkembang. Berikut beberapa film besutannya antara lain Bintang Jatuh (2000), Ada Apa dengan Cinta (2002), Rumah Ketujuh (2003), Garuda di Dadaku (2011) hingga Sayap-sayap Patah (20220, dan Primbon (2023).

“Belajarnya pas bukan sukanya, menurut saya kita belajar ketika kita kehilangan yang kita tuju. Misalnya, ternyata penontonnya sedikit, penontonnya tidak suka yang ini, terus ternyata saya salah caranya membuat film. Itu yang selama 25 tahun saya mencari-mencari terus, makanya kalau dilihat dari semua rentetan film saya itu tidak pernah ada yang sama,” kata Rudi saat berkunjung ke Antara Heritage Center di Pasar Baru, Jakarta, Rabu, 22 Mei 2024, dikutip dari Antaranews

Rudi juga menekankan pentingnya memberikan pengalaman yang ringan dan menyenangkan bagi para penonton, tanpa mengorbankan kekuatan emosional dari setiap cerita yang ingin disampaikan.

Baginya, film adalah media yang kuat untuk menyampaikan pesan, dan fokusnya adalah agar penonton dapat merasakan dan terlibat secara emosional dengan setiap karya yang ia hasilkan.

Setelah melalui berbagai pengalaman dan belajar dari kesalahan, Rudi akhirnya menemukan cara yang tepat dalam membuat film.

Kini, fokusnya bukan hanya pada teknis pembuatan film, melainkan juga pada bagaimana menyampaikan emosi yang mendalam kepada penonton.Selain terus berkarya membuat film, Rudi pun mengajar di Reload Film Center, sekolah film yang didirikannya bersama Monty Tiwa. 

Pilihan Editor: Serba-serbi Film Saat Menghadap Tuhan yang Disutradarai Rudi Soedjarwo

Source link

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *