Pendidikan Vokasi Siapkan Talenta yang Terintegrasi dengan Kebutuhan Industri Kreatif Gim

  • Share

Ilustrasi: gim online(Freepik)

SISTEM pendidikan vokasi khususnya jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) setiap tahun meluluskan jutaan talenta yang diharapkan menjadi tenaga kerja handal dan relevan dengan perkembangan dan kebutuhan industri, salah satunya pada industri kreatif game online yang memiliki potensi ekonomi sangat besar. Oleh karena itu, integrasi industri dan lulusan SMK perlu diperkuat agar mampu menyiapkan keterampilan dan masa depan talenta yang lebih relevan dan inovatif.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Kiki Yuliati mengatakan, pihaknya berkomitmen mendorong pelibatan SDM lulusan SMK untuk mengisi kebutuhan industri kreatif gim. Hal ini, kata dia, sesuai arahan Presiden Joko Widodo lewat Perpres No.19/2024 untuk mempercepat pertumbuhan industri gim nasional.

“Lewat Perpres tersebut, kami mendapat tugas menyiapkan sumber-sumber SDM terutama dari vokasi, agar nantinya mereka tidak hanya sebagai pengguna gim, tapi juga harus menjadi pengembang yang secara aktif berkarir di industri gim,” jelas Kiki saat ditemui Media Indonesia di Gedung Kemendikbud-Ristek pada Senin (3/6).

Baca juga : HDI Ubah Nama dan Buka Kembali Akses Unduhan Gim di Indonesia

Kiki mengungkapkan bahwa saat ini sebanyak 41 SMK di Jabodetabek telah siap melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) dengan PT. Gamecomm, sebagai tanda kemitraan yang strategis antara satuan pendidikan vokasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Hal ini dalam rangka menyiapkan lulusan vokasi yang memiliki keterampilan yang relevan dan siap berkontribusi di dunia industri kreatif gim.

“Tugas kami menyiapkan pendidikan vokasi agar bisa mendidik generasi muda supaya mampu berkontribusi positif, bekerja dan berkarir di industri gim. Kita melihat ada 41 sekolah yang sudah siap dan lolos seleksi untuk menjalin kerjasama. Kami harus pastikan agar sekolah siap, guru mamadai, tingkat minat siswa cukup baik untuk merespon kerjasama ini,” ujarnya.

Kiki menjelaskan bahwa bentuk kerjasama yang akan dilaksanakan antara satuan pendidikan vokasi dengan industri dibangun dalam sistem pembelajaran, pelatihan, pembentukan kurikulum hingga penyediaan tempat praktek kerja lapangan bagi siswa. Dijelaskan bahwa kerjasama ini menyasar sekolah dengan berbagai jurusan sehingga tidak hanya terpaku pada jurusan gim semata.

Baca juga : 29 Perusahaan Retail Buka Ratusan Peluang Kemitraan dengan SMK dan PTV

“Tidak harus dari jurusan gim, tapi bisa jurusan animasi, multimedia, designer bahkan jurusan marketing untuk pemasaran. Banyak bidang di dalam industri gim yang bisa dimasuki lulusan SMK dan itu perlu kita siapkan. Bentuk kerjasama juga akan diterapkan dengan praktisi perusahaan gim ikut membantu sekolah dalam mengajar mengenai industri gim, misalnya hal-hal teknis dan teori,” jelasnya.

“Ada juga aktivitas magang atau praktek kerja lapangan, serta sekolah akan dibantu dalam merancang kurikulum operasional jurusan sekolah, apakah sudah bisa menyiapkan dan memberikan materi-materi yang mengarah pada kompetensi dan kebutuhan di industri gim,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Kiki menjelaskan bahwa bagi sekolah yang telah terseleksi untuk mengikuti kerjasama dengan industri gim bersama Kemendikbud, diharapkan untuk mempersiapkan pembelajaran kurikulum di sekolah agar mampu mendidik siswa dan menumbuhkan minat bakat siswa untuk bekerja di bidang industri gim daring secara profesional.

Baca juga : Yuk Mengenal Ancaman Judi Online dan Bedanya dengan Gim Online

“Manfaatkan kehadiran industri di sekolah, para pendidik harus mampu menjelaskan hal-hal yang ada di industri gim kepada siswa sehingga dapat memperkaya pengetahuan siswa. Saat ini, industri gim tidak sekadar mainan atau hiburan tapi ini telah menjadi urusan yang serius dan mampu berkontribusi untuk meningkatkan pembangunan ekonomi bangsa,” imbuhnya.

Sementara itu, Manager gim Lokapala, Kama Aditya mengungkapkan bahwa industri gim memiliki potensi ekspor sangat besar hingga Rp 20-30 triliun. Akan tetapi Indonesia baru memanfaatkan sekitar 0,5 persen, sehingga dibutuhkan pengembangan baik dari sisi SDM, infrastruktur teknologi perangkat keras hingga pembiayaan.

“Kita melihat potensi lulusan SMK sebagai early adapter yang merupakan pintu utama agar game bisa dikembangkan. Saat ini ada 170 juta pengguna gim di Indonesia yang banyak dimainkan oleh pelajar. Dengan adanya kerjasama ini akan membangun generasi muda agar bisa belajar sesuai dengan kebutuhan industri dan mendapatkan bahan ajar yang dibutuhkan di dunia industri,” ungkapnya.

Baca juga : FSGI Soroti Tingginya Kasus Kekerasan di Satuan Pendidikan

Menurut Aditya, permintaan industri gim di Indonesia masih kekurangan SDM yang bisa mengembangkan desain game bukan dari sisi seni. Dijelaskan bahwa programmer dan desainer gim di Indonesia masih sulit dicari, hal ini bertolak belakang dengan Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan yang jauh lebih advance dalam desainer gim.

“Inisiatif pemerintah dalam mengembangkan ekonomi dan talenta SDM dengan fokus pada pengembangan industri gim menjadi hal yang tepat, industri gim ini bisa membuat kita melompat jauh menuju Indonesia emas 2045, daripada industri ekstraktif seperti pertambangan,” ungkapnya.

1.200 Tenaga Kerja

Pada kesempatan yang sama, Plt. Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Kreatif Liz Zeny Merry Kemenko Marves menyampaikan bahwa pemerintah berencana untuk melibatkan institusi pendidikan untuk melatih 1.200 tenaga kerja, khususnya pengembang gim dengan tujuan untuk mengembangkan tiga hingga lima gim unggulan

“Saat ini industri gim Indonesia masih mempunyai tantangan utama berupa pengembang lokal yang hanya menguasai 0,5% pasar nasional. Dan kita memiliki target pada 2025, proyeksi pendapatan dari industri game di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 2,5 miliar, setara dengan Rp 36 triliun, sesuai dengan aturan baru yang diterapkan,” ujarnya. (Dev/Z-7)

Source link

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *