Musim Panas 2023 Paling Membakar dalam 2.000 Tahun Terakhir

  • Share

LONDON, iNews.idMusim panas tahun lalu bukan hanya yang paling membakar yang pernah tercatat. Hasil penelitian terbaru menunjukkan, musim panas 2023 juga yang terpanas dalam 2.000 tahun terakhir.

Sepanjang musim panas tahun lalu, kebakaran hutan melanda wilayah Mediterania. Sementara jalan-jalan di Texas, AS, rusak dan retak-retak karena terpanggang suhu tinggi. Begitu pula di China, gelombang panas membebani jaringan listrik negara itu.

Para ilmuwan Eropa tahun lalu menetapkan bahwa periode Juni hingga Agustus adalah periode terpanas sejak 1940. Catatan tersebut sekaligus menjadi tanda yang jelas bahwa perubahan iklim telah memicu kondisi ekstrem baru.

Akan tetapi, lebih jauh lagi dari itu, panas musim panas 2023 di Belahan Bumi Utara ternyata juga melampaui rekor dalam jangka waktu yang jauh lebih lama. Hal itu terungkap lewat temuan sebuah studi di jurnal Nature pada Selasa (14/5/2024).

“Jika Anda melihat sejarah yang panjang, Anda dapat melihat betapa dramatisnya pemanasan global saat ini,” kata salah satu penulis dalam studi itu, Jan Esper, seorang ilmuwan iklim di Universitas Johannes Gutenberg di Jerman.

Menurut riset tersebut, pada musim panas 2023, suhu daratan di antara 30 dan 90 derajat lintang utara bumi mencapai 2,07 derajat Celsius. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata suhu kawasan tersebut pada era praindustri.

Dalam penelitiannya, para ilmuwan menggunakan catatan stasiun meteorologi sejak pertengahan tahun 1800-an. Mereka mengombinasikannya dengan lingkaran pohon dari ribuan pohon di sembilan lokasi di Belahan Bumi Utara, untuk membuat kembali seperti apa suhu tahunan di masa lalu.

Berdasarkan proksi lingkaran pohon itu, mereka menemukan bahwa musim panas 2023 suhunya 2,2 Celsius lebih hangat dibandingkan perkiraan suhu rata-rata pada tahun 1 hingga 1890.

Pada Januari lalu, para ilmuwan dari Lembaga Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa mengatakan, Tahun 2023 bahkan sangat mungkin menjadi tahun terpanas dalam 100.000 tahun terakhir.

Namun, Esper dan tim ilmuwan Eropa membantah klaim tersebut. Mereka berpendapat, metode ilmiah dalam mengumpulkan informasi iklim masa lalu dari sumber-sumber seperti sedimen danau dan laut serta rawa gambut, tidak memungkinkan untuk dilakukannya perbandingan suhu ekstrem dari tahun ke tahun dalam skala waktu yang begitu lama. “Kami tidak memiliki data seperti itu. Itu pernyataan yang berlebihan,” kata Esper.

Dia mengatakan, pemanasan akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil diperburuk pada musim panas lalu oleh pola iklim El Nino. Fenomena cuaca itu pada umumnya memang menyebabkan suhu global menjadi lebih hangat.

“Kita akan mengalami gelombang panas yang lebih lama dan lebih parah serta periode kekeringan yang berkepanjangan,” ujarnya.

Editor : Ahmad Islamy Jamil

Source link

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *