Muatan Kurikulum Penguatan Nilai-nila Pancasila Perlu Ditingkatkan

  • Share

Sejumlah anggota Resimen Mahasiswa mengikuti kirab bendera Merah Putih(Antara)

PERATURAN dunia dan tantangan global serta pertarungan ideologi yang semakin dinamis menutut masyarakat Indonesia perlu memperkuat kembali Pancasila supaya berakar kuat di bumi nusantara.

Diantaranya, pertama melakukan penataan kembali secara fundamental pendidikan dan pengajaran Pancasila, terutama muatan kurikulumnya. Kedua cara-cara atau metodologi nya, dan yang ketiga memperkuat para pengajarnya sendiri.

Demikian dikemukakan Ketua Pusat Kebangsaan Indonesia (PSKI_ Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) Hassan Wirajuda usai membuka Simposium Pancasila dan Kebangsaan yang digelar PSKI di kampus Prasmul, Serpong,Tangsel,kemarin.

Baca juga : Gelar Simposium Pancasila, PSKI Prasmul Minta Pengajar Upgrade Diri

“Ya, perubahan kurikulum karena muatan kurikulumnya harus diperbaiki juga metodologi penyampaiannya tidak sepihak satu arah saja yang membuat para pelajar dan pemuda belum tentu mau atau tidak tertarik. Maka para pengajar baik guru atau dosen harus di upgrade kembali, tingkatkan kemampuannya,” kata mantan Menlu RI itu.

Dia mencontohkan banyak guru atau dosen di perguruan tinggi mengulas Pancasila, tidak lagi membaca risalah sidang BPUPKI yang sangat kaya menambah wawasan dan pencerahan.

Selain itu, Hassan juga sepakat pentingnya contoh atau keteladan para pemimpin dan tokoh.

Baca juga : Sambut Hari Pancasila, BPIP Gelar Kirab Pancasila Bentangkan Merah Putih di CFD Jakarta

Lebih lanjut Hassan mengutarakan survey kerjasama PSKi dengan Litbang Kompas menunjukan pemahaman tentang Pancasila yang mendukung Pancasila sebagai dasar negara tetap tinggi di atas 70 persen,juga pada kepedulian anti korupsi dan keadilan sosial.

Disisi lain, lanjut Hassan , riset Setara Institute pada pelajar SMA cukup memprihatinkan yakni sekitar 80 persen mengatakan, mereka memahami, tetapi ketika ditanya lagi apakah Pancasila perlu diganti, itu cukup tinggi di atas 50 persen.

Bagi dia,kondisi ini menjadi tantangan terlebih di era sekarang, tingginya lintas informasi yang cepat, di dunia luar juga berkembang berbagai ideologi, seperti neoliberalisme, kapitalisme serta kemungkinan bangkitnya kembali komunisme. Ia mengingatkan jika komunis, tidak lagi merupakan ancaman, karena di negara-negara bekas Eropa Timur yang komunis sosialis pun sudah berubah menjadi negara demokrasi.

Baca juga : Sekolah dan Guru Jadi Penggerak Utama Literasi BPJS Ketenagakerjaan Pelajar Indonesia

Di Eropa Barat sebagian partai komunis mengubah diri, mentransformasi menjadi sosial demokrat, tetapi sosial demokrat tidak laku lagi.

Akan tetapi, pada kongres ke 100 Partai Komunis China, mereka sangat membanggakan di bawah kepemimpinan Xi Jin Ping China nampak mulai kental ideologi komunisnya, dan mengklaim bahwa kebangkitan China dalam 50 tahun terakhir adalah karena komunisme,” itu yang saya cukup khawatir,” cetusnya.

Pada kesempatan sama, Irsyad Zamjani dari Kemendikbudristek mengatakan pihaknya bekerjasama dengan BPIP membuat buku-buku pendidikan Pancasila. Tetapi isi nya sekarang sudah lebih kontekstual tidak sekedar hafalan sila-sila, anak-anak diminta juga untuk mempelajari studi kasus, dan diskusi kasus-kasus yang tadi diajarkan.

Baca juga : Tata Kelola Guru Kunci Tingkatkan Mutu Pendidikan

Di Luar itu ,lanjut dia, penguatan karakter Pancasila di masyarakat itu masih sangat diperlukan melalui penegakan hukum, melalui budaya populer, “Saya dengar disini mahasiswa diberi tugas untuk memerankan pelaksanaan Pancasila, saya kira ini strategi pendidikan yang sangat relevan dengan anak-anak sekarang,” ungkapnya.

Arya Fernandes dari CSIS mengutarakan pertanyaan menggelitik pada peserta tentang eksistensi Pancasila dewasa ini.

” Saya ingin mengajukan satu pertanyaan yang reflektif bagi kita semua, terkait apakah Pancasila masih menjadi pedoman hidup dan karakter perjalanan bangsa,” ujarnya.

Lebih lanjut ia merujuk rencana strategis BPIP 2002-2004 terdapat tiga lapis ideologi Pancasila. Lapis pertama adalah keyakinan, seberapa yakin kita mendasarkan dasar negara kita, pandangan hidup kita dan jiwa kita pada Pancasila, apakah kita yakin atau tidak yakin. Lapis kedua pengetahuan, yang dilakukan Frasmul misalnya dengan Litbang. Kompas untuk menguji bagaimana pengetahuan masyarakat, pengetahuan siswa tentang Pancasila.

Baru pada lapisan ketiga adalah tindakan, jadi bagaimana Pancasila itu mendasarkan tindakan-tindakan yang terdapat dalam kitab.

Dari puluhan guru peserta yang hadir diantaranya Neni Junaeni Guru PPKn SMA Negeri 8 Tangsel dan Septi Guru SMA Waskito Tangsel, sepakat dengan pernyataan Hassan Wirajuda bahwa guru mesti mengupgrade diri dan memunyai metode mengajar yang komunikatif dan inovatif.Sehingga para siswa menjadi lebih tertarik sehingga suasana kelas menjadi hidup dan produktif dalam pembelajaran dan pengamalan Pancasila. (Z-8)

 

Source link

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *