Lebih dari Setahun Pilot Susi Air Disandera TPNPB-OPM, Aparat Sebut Ada Kendala di Lapangan

  • Share

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah masih terus mengupayakan pembebasan pilot Susi Air, Philips Mark Mehrtens. Meski sudah lebih dari setahun, belum ada perkembangan signifikan terhadap upaya tersebut. 

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Nugraha Gumilar mengatakan, aparat keamanan di lapangan masih berusaha untuk membebaskan tawanan warga negara Selandia Baru itu. “Pembebasan kapten Philips masih terus diupayakan,” kata Nugraha dikonfirmasi Tempo, Senin, 22 April 2024. 

Philips Mark Mehrtens mulai disandera sejak 7 Februari 2023. Kala itu, ia baru mendarat  di Bandara Paro, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, tiba-tiba diserang oleh TPNPB pimpinan Egianus Kogoya. 

Sampai hari ini, terhitung Philips Mark Mehrtens telah disandera Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) selama kurang lebih 14 bulan. “Banyak dinamika di lapangan yang menjadi kendala,” kata Nugraha. 

Namun begitu, Nugraha tidak menjelaskan secara detil apa saja yang menjadi hambatan terhadap proses pembebasan itu. Ia hanya menyebut, aparat keamanan mengutamakan keselamatan warga sipil dalam proses itu. “Aparat keamanan mengutamakan keselamatan warga sipil,” katanya. 

Sebelumnya, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) menuding Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjatuhkan bom menggunakan pesawat tempur. Operasi itu bagian dari upaya pembebasan pilot Susi Air, Philips Mark Mehrtens, yang disandera kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya. 

Iklan

“Otoritas militer Indonesia melakukan serangan bom melalui pesawat jet tempur, dua helikopter Skuadron 11 dan kamera drone difasilitasi dengan bom mortir. Sebagaimana telah disampaikan oleh Kapten Philips pada 10 April 2024 lalu,” kata juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, dalam keterangan tertulis, Kamis malam, 18 April 2024. 

Sebby menjelaskan berdasarkan laporan dari Panglima TPNPB Komando Daerah Pertahanan III Ndugama-Derakma Egianus Kogoya, pengerahan pasukan militer dalam misi pembebasan Philip Mark Mehrtens melalui jalur udara telah merusak fasilitas sipil, perkebunan warga, dan tempat tinggal Kapten Philips. Kerusakan terjadi akibat terkena serangan bom mortir. 

Bom mortir itu, kata Sebby, dibuang dan ditembak dari pesawat jet dan helikopter militer. “Tepat di tempat pengungsian,” kata dia. Nugraha membatah pihaknya melakukan serangan udara terhadap TPNPB. “Aparat keamanan melaksanakan serangan udara adalah tidak benar,” katanya.

Pilihan Editor: Pengacara Firli Bahuri Nilai Tak Ada Alasan Subjektif Kliennya Harus Ditahan Polisi

Source link

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *