Curah Hujan Masih Tinggi, Masyarakat Diimbau Siaga Bencana

  • Share

Normalisasi sungai di kawasan Simpang Manunggal, Nagari Limo Kaum, Tanah Datar, Sumatra Barat, Minggu (2/6/2024).(ANTARA/Iggoy el Fitra)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagaannya akan potensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor meskipun saat ini Indonesia sedang berada pada periode kemarau.

“Jika terjadi hujan lebat lebih dari satu jam, warga diimbau untuk evakuasi secara mandiri ke tempat yang lebih aman,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Minggu (7/7).

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam sepekan ke depan, masih terdapat potensi peningkatan curah hujan secara signifikan di sejumlah wilayah Indonesia.

Baca juga : Gubernur Kalsel Terbitkan Edaran Kewaspadaan Bencana

Fenomena tersebut, disebabkan oleh dinamika atmosfer skala regional – global yang cukup signifikan. Diantaranya, termonitornya aktivitas fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial di sebagian besar wilayah Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Sebagian besar Papua.

Kombinasi pengaruh fenomena-fenomena cuaca tersebut diprakirakan menimbulkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat/angin kencang di sebagian besar wilayah Indonesia pada tanggal 5 – 11 Juli 2024. Wilayah yang dimaksud yaitu, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Pulau Maluku, dan Pulau Papua.

Sementara itu, BNPB mencatat bencana banjir melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Di Kabupaten Buton Utara, banjir yang terjadi pada malam Rabu, (3/7) menghantam beberapa kecamatan seperti Kambowa dan Kulisusu Barat. Sebanyak 1.670 jiwa atau sekitar 432 kepala keluarga terdampak. Desa-desa seperti Morindino, Baluara, dan Pongkowulu di Kecamatan Kambowa serta Lapandewa dan Lambale di Kecamatan Kulisusu Barat menjadi pusat perhatian evakuasi dan bantuan kemanusiaan.

Baca juga : BNPB: Bencana Hidrometeorologi Basah Dapat Dicegah

“Kerugian material jalan poros dan talud sungai mengalami kerusakan parah, menghambat akses dan menambah kesulitan bagi warga yang harus menghadapi kondisi pasca-banjir,” ujar Abdul.

Selain itu, di Kabupaten Muna Barat, luapan Sungai Tiworo yang terjadi pada malam Kamis, (4/7/2024) menyebabkan 241 jiwa terdampak, dan sebanyak 34 Jiwa mengungsi. Desa-desa seperti Lasama, Laworo, dan Waumere di Kecamatan Tiworo Kepulauan serta Lakalamba di Kecamatan Sawerigadi menjadi fokus utama evakuasi dan penanganan darurat.

Intensitas hujan ringan hingga lebat yang terjadi selama beberapa hari menyebabkan air sungai Waeapo, Waetina, Waelata dan sungai di desa Pela meluap hingga mengakibatkan banjir di empat Kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Buru, Provinsi Maluku pada Jumat (5/7) pukul 17.00 WIT.

Bencana itu menyebabkan empat Kecamatan, yaitu Kecamatan Waeapo, Kecamatan Waelata, Kecamatan Lolongguba dan Kecamatan Batabual terdampak sehingga mengganggu aktivitas perekonomian dan sosial masyarakat setempat.

Abdul menuturkan banjir juga merendam rumah warga di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Kejadian ini dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang mengakibatkan meluapnya aliran sungai sehingga menyebabkan rumah warga di Kecamatan Sukaraja tergenang banjir pada Sabtu (6/7) pukul 6.30 WIB. Adapun lokasi terdampak berada di dua Desa yaitu Desa Cahaya Negeri dan Desa Jenggalu.

Source link

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *