BPOM Ingatkan Masyarakat untuk Pilih Pangan yang Aman

  • Share

Ilustrasi(Freepik)

BADAN Pangan Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan masyarakat agar memilih pangan yang aman untuk dikonsumsi. Imbauan tersebut tidak terlepas dari ancaman pangan yang mengandung berbagai zat berbahaya dan beredar bebas di tengah-tengah masyarakat.

“Kami mengedukasi masyarakat untuk memilih makanan yang aman. Makanan yang aman tersebut kita sudah evaluasi dan mendapatkan izin edar dari Badan POM bahwa dia tidak menggunakan bahan tambahan makanan yang sifatnya tidak aman buat dikonsumsi manusia,” kata Pelaksana Tugas (PLT) Kepala BPOM Rizka Andalucia.

Menurut Rizka, Indonesia saat ini diintai berbagai macam penyakit yang disebabkan pangan yang mengandung berbagai zat berbahaya. 

Baca juga : Badan POM-BRIN Kaji Pemanfaatan AI untuk Pengawasan Pangan Olahan

Menurutnya, tren ancaman penyakit di Indonesia sudah mulai bergeser dari penyakit menular menjadi tidak menular.

Salah satu penyebab kemunculan penyakit tersebut karena beredarnya pangan yang tidak aman di tengah-tengah masyarakat.

“Di Indonesia ini sekarang sudah bergeser dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Dan kita semua tahu bahwa salah satu penyebab meningkatnya penyakit tidak menular adalah pangan yang tidak aman,” ujar Rizka.

Baca juga : Tidak Setuju RUU POM, Menkes Nilai Pengawasan Obat sudah Komprehensif

Rizka menyebut banyak pangan yang beredar ini mengandung berbagai zat berbahaya. Salah satunya adalah zat karsinogenik yang dapat meningkatkan risiko kanker masyarakat. 

“Mulai dari bahan-bahan tambahan pangan yang tidak aman yang bersifat karsinogenik, yang membahayakan buat kesehatan kita,” ucap Rizka.

Imbauan Rizka tersebut lantaran semakin maraknya kasus penyakit yang ditimbulkan dari olahan pangan. Salah satu kasus terbaru terjadi keracunan massal yang menimpa 16 siswa SDN Cidadap I, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Mei lalu.

Baca juga : BPOM Periksa Sampel Makanan Jemaah Haji

Para siswa mengalami pusing, mual dan muntah usai membeli snack asal Tiongkok bermerek ‘Hot Spicy Latiru dan Latiao Strips’. 

Berdasarkan hasil pemeriksaan di Laboratorium Kesehatan dan Klinik Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Sukabumi snack tersebut mengandung bakteri mikrobiologi di atas batas aman yakni 11.727 koloni per gram.

Kandungan tersebut melampaui batas syarat Peraturan Kepala BPOM Nomor 16 Tahun 2016 Tentang Kriteria Mikrobiologi dalam Pangan Olahan yakni 10.000-100.000 koloni per gram.

Baca juga : Anggota DPR Imbau UMKM Punya Nomor Izin Edar BPOM, Kenapa?

Kasus serupa juga terjadi di Sukabumi ketika 28 siswa mengalami keracunan usai menyantap jajanan bermerek Daya pada Februari lalu. 

Usai mengonsumsi jajanan Tiongkok tersebut, puluhan siswa dari SDN Nangewer pelajar MI Nangewer mengalami mual bahkan pingsan. Atas kejadian tersebut, polisi pun mengamankan pedagang jajanan tersebut.

Ketiga jajanan tersebut yakni Hot Spicy Latiru, Latiao Strips, dan Daya Latio Rib tersebut merupakan snack yang berasal dari Tiongkok. Berdasarkan penelusuran di situs LPPOM MUI, ketiga jajanan tersebut  tidak ada satupun yang terdaftar dengan sertifikasi halal.

Jika Indonesia kebobolan dalam menangani produk pangan berbahaya dari Tiongkok, Singapura justru selangkah lebih maju untuk mengantisipasinya pangan Tiongkok berbahaya. 

Pada Mei 2024, Badan Pangan Singapura (SFA) menarik peredaran produk kacang impor buatan Tiongkok bermerek Xiyuguoyuan Xinjiang Paper Roasted Walnut ukuran kemasan 500 gram dan 1 kg. Produk yang ditarik mengandung bahan pemanis buatan siklamat dan asesulfam-K dalam kadar tinggi di luar batas aman.

Dalam beberapa dekade terakhir, produk pangan dari Tiongkok kerap disorot karena berkali-kali ditemukan zat kimia dalam kandungannya. Salah satu yang paling membuat gempar adalah skandal susu Tiongkok pada 2008. 

Saat itu, zat kimia melamin banyak mengandung melamin dari berbagai produsen susi. Kasus itu pun menelan 300.000 korban, di mana 54.000 korban dilarikan ke rumah sakit dan enam bayi telah tewas akibat gagal ginjal. (Z-1)

Source link

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *